Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250
Opini

Surat Terbuka untuk Keselamatan Anak Bangsa di Tanah Papua

90
×

Surat Terbuka untuk Keselamatan Anak Bangsa di Tanah Papua

Share this article

Oleh: Winsensius, Pengurus Pemuda Katolik Kabupaten Sikka

Example 728x250

Pertama-tama, saya menyampaikan dukacita yang mendalam atas semua tenaga ASN yang gugur akibat kekerasan di tanah Papua.

Mereka tidak memanggul senjata untuk membunuh, melainkan mengulurkan tangan untuk kehidupan. Di tengah kecamuk badai peluru dan bunyi tembakan di pelosok negeri ini, sosok tubuh berseragam yang penuh pengabdian berdiri kokoh, menantang maut demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang terabaikan.

Gugurnya orang NTT yang mengabdi di atas tanah Papua bukanlah suatu kejadian baru, namun sudah berulang kali. Pada Maret 2025, terjadi insiden penyerangan oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang menewaskan sejumlah warga, di mana sebagian besar korban merupakan guru dan tenaga kesehatan asal Nusa Tenggara Timur (NTT), satu di antaranya meninggal dunia.

Pada momen itu, Sebby Sambom—yang diakui oleh sekelompok orang sebagai juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM)—dengan tegas meminta agar orang-orang NTT dan Maluku stop dan berhenti memasuki wilayah pedalaman Papua untuk menjadi guru maupun nakes, serta menyarankan agar tetap menetap di kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, Sorong, dan lain-lain.

Sebby juga menyampaikan bahwa NTT dan Maluku adalah bagian dari bangsa Melanesia. Saat ini mereka masih berjuang, dan silakan datang ketika Papua sudah mencapai cita-cita untuk merdeka.

Hari ini, dengan nada yang tidak jauh berbeda dengan insiden tahun lalu, Sebby Sambom merespons menyusul insiden penembakan yang menewaskan tiga orang ASN di wilayah Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, di mana dua di antaranya merupakan putra daerah NTT.

Sebby Sambom menyampaikan dukacita atas tewasnya dua warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam insiden penembakan di wilayah Muliama, Jayawijaya, Papua.

Dalam pernyataannya, Sebby menyebut warga NTT sebagai saudara bangsa Papua dan mengaku pihaknya telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak datang atau beraktivitas di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata.

“Itu saudara-saudari orang NTT sendiri yang salah. Kami sudah ingatkan berkali-kali ke wilayah konflik bersenjata, tetapi saudara/i orang NTT selalu abaikan itu,” kata Sebby melalui berbagai media digital yang beredar.

Sebby mengatakan, dirinya memandang masyarakat NTT memiliki kedekatan dengan masyarakat asli Papua, baik dari sisi cara berbicara maupun pola kehidupan.

“Sebenarnya orang NTT itu sama dengan orang asli Papua, karena cara bicara dan cara hidup sama. Tapi orang NTT sendiri yang tidak menghargai peringatan kami. Siapapun yang tidak menghargai peringatan kami, termasuk orang Papua pun kami habisi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya masih memperjuangkan kemerdekaan Papua dan meminta masyarakat, khususnya warga pendatang, untuk tidak datang ke wilayah yang disebutnya sebagai daerah konflik.

Pernyataan-pernyataan seperti ini harus dimaknai sebagai pernyataan cinta dan kepedulian atas nama bangsa Melanesia!

Melihat dan mengamati insiden yang terus terjadi di atas tanah Papua dan orang NTT yang terus menjadi korban, harusnya Pemerintah Provinsi NTT segera memulangkan semua ASN yang bertugas di atas tanah Papua.

Akhirnya, saya perlu menyampaikan kepada publik bahwa tulisan saya ini tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun. Tulisan ini berangkat dari rasa cinta dan kemanusiaan.

Konflik di atas tanah Papua bukan sekadar angka statistik dalam laporan berita atau perdebatan politik di ruang-ruang rapat. Di balik setiap angka yang gugur, ada detak jantung yang berhenti, ada masa depan yang terenggut, dan ada duka mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.

Hargailah napas kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita. Hidup adalah anugerah terbesar yang dititipkan oleh Tuhan kepada setiap manusia, sebuah karunia suci yang dianugerahkan untuk dijaga, dirawat, dan dihormati, bukan untuk dihancurkan atau dibunuh. Setiap hela napas yang kita miliki membawa maksud ilahi yang jauh lebih besar dari sekadar keberadaan fisik di dunia. Ketika kita menyadari bahwa kehidupan bersumber dari Sang Pencipta, kita memahami bahwa tidak ada satu pun manusia yang memiliki hak untuk mengakhirinya—baik hidup orang lain maupun hidupnya sendiri.

Masih ada begitu banyak tempat untuk kita mengabdi, masih banyak orang membutuhkan uluran tangan kita di pelosok Indonesia tercinta ini. Sudah cukup kita mengabdi di di atas tanah yang mengorbankan kita. Biarkan saja bangsa Papua menentukan nasibnya sendiri. Mampu atau tidaknya, itu urusan mereka.

Saya atas nama Winsensius bertanggung jawab atas tulisan ini demi keselamatan nyawa saudara-saudari saya di NTT yang masih mengabdi di atas tanah Papua, terlebih khusus di wilayah-wilayah konflik.

Example 800x350
Example 120x600
banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

banner 728x250
google.com, pub-7244876559405049, DIRECT, f08c47fec0942fa0