WATAMPONE kompasnusantaranews.com – Gema Gau Maraja Bone 2026 kembali menggema. Salah satu agenda intelektual paling bergengsi dalam rangkaian Gau Maraja, yakni Seminar Internasional Gau Maraja 2026 resmi dibuka, Sabtu (26/9/2026).
Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., membuka langsung kegiatan yang mengusung tema besar *“Symphony of the Granary: Celebrating Food and Culture”* tersebut. Bertempat di Aula Al-Markaz Al-Ma’arif, Kabupaten Bone, seminar ini menjadi magnet bagi pemerhati budaya, akademisi, dan pegiat sejarah.
Bukan sekadar seremonial, seminar ini menjadi ruang perjumpaan pemikiran. Para pembicara dari berbagai latar belakang dihadirkan untuk membedah keterkaitan erat antara pangan dan kebudayaan. Tema yang diangkat menegaskan pesan kuat: tradisi pangan bukan hanya soal perut, tapi soal jati diri.






“Tradisi pangan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya,” menjadi benang merah yang mengemuka dalam seminar tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin menegaskan bahwa Gau Maraja adalah momentum emas untuk terus mengenalkan kejayaan sejarah dan kebudayaan Bone kepada dunia.
“Pelaksanaan Gau Maraja merupakan momentum penting untuk terus mengenalkan sejarah dan kebudayaan Bone kepada masyarakat luas. Nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur perlu terus dijaga dan dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi mendatang,” ujar Wabup.




Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bone memiliki komitmen kuat dalam pelestarian budaya lokal. Berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, komunitas budaya, hingga akademisi terus didorong agar tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi gerakan bersama.
Upaya tersebut diyakini akan memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi pintu masuk memperkenalkan potensi budaya Bone ke tingkat nasional, bahkan internasional.
Seminar Internasional ini pun mempertegas posisi Gau Maraja bukan hanya sebagai festival budaya, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara budaya, sejarah, pangan, dan masyarakat.



Melalui kegiatan ini, Pemkab Bone berharap nilai-nilai kearifan lokal tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus diwariskan dan menjadi akar yang kuat dalam pembangunan daerah yang berbudaya. (*asp)





















