PAREPARE KOMPASNUSANTARANEWS.COM_ — Di tengah riuhnya Kota Parepare, ada satu tempat yang diam tapi bicara banyak tentang sejarah. Di *Watang Bacukiki*, berdiri sebuah batu besar yang jadi saksi bisu lahirnya sebuah wilayah. Masyarakat menyebutnya *Batu Makkiki’e* atau Batu Meringkik.
Batu ini bukan batu biasa. Dari sinilah nama *Bacukiki* lahir, dan dari sinilah cerita rakyat Parepare dimulai.
*1. Batu yang Memberi Nama: Dari “Makkiki’e” Jadi Bacukiki*
Konon, ratusan tahun lalu masyarakat Bugis mendengar suara aneh dari sebuah batu besar di kawasan Watang. Suaranya mirip *ringkikan kuda* — _makkiki’e_ dalam bahasa Bugis.
Karena peristiwa itu, tempat itu lalu disebut *Batu Kiki* atau *Batu Makkiki*. Lama-lama berubah menjadi *Bacukiki*.
Bentuk batu purba ini juga unik. Sebagian warga percaya siluetnya menyerupai seekor kuda yang sedang berdiri. Sejak saat itu, Batu Makkiki’e dianggap sebagai *cikal bakal dan penanda awal peradaban di wilayah Bacukiki*.
*2. Mitos Ringkikan: Pertanda Bencana dan Pergantian Zaman*
Orang-orang tua dulu percaya, Batu Makkiki’e bisa “berbicara”.
Pada malam-malam tertentu, batu ini konon mengeluarkan suara ringkikan keras secara gaib.



Bagi masyarakat Watang Bacukiki, Bojo, Soppeng, hingga Mangkoso, suara itu bukan main-main. Itu adalah *pertanda spiritual*:
1. *Peringatan bencana* – banjir, angin besar, atau malapetaka akan datang
2. *Tanda peristiwa besar* – seperti pergantian pemimpin adat, pelantikan raja, hingga wafatnya tokoh penting
Karena itu, batu ini sangat disegani dan dijaga. Ia dianggap penghubung antara alam nyata dan alam gaib.
*3. Legenda Melawan Belanda: Batu yang Melindungi Bacukiki*
Kisah paling terkenal adalah saat pasukan Belanda hendak masuk menyerang wilayah pedalaman Kerajaan Bacukiki.
Cerita tutur menuturkan, saat tentara kolonial mendekat, tiba-tiba *angin kencang misterius* menerjang. Pepohonan tumbang, jalan tertutup. Bersamaan dengan itu, *Batu Makkiki’e meringkik sangat keras*.
Masyarakat percaya itu adalah bentuk perlindungan gaib. Batu itu “berteriak” memberi peringatan bahwa akan ada pertumpahan darah demi mempertahankan tanah Bacukiki. Sejak saat itu, Batu Makkiki’e semakin dianggap keramat sebagai penjaga wilayah.
*4. Dari Situs Keramat ke Destinasi Wisata Budaya*
Hingga hari ini, Batu Makkiki’e masih dihormati warga sebagai *warisan leluhur yang sakral*. Banyak yang datang berziarah, bernazar, dan memohon doa di sana.



Pemerintah Kota Parepare pun kini mengembangkan kawasan ini menjadi bagian dari *desa wisata*. Tujuannya agar nilai sejarahnya tidak hilang ditelan zaman.
Salah satu upaya pelestariannya adalah *Festival Mallipa*. Setiap tahun Dinas Pariwisata Parepare menggelar festival memakai sarung khas Bugis tepat di dekat kawasan cagar budaya Batu Makkiki’e. Ribuan warga dan wisatawan datang untuk mengenal lebih dekat budaya, sejarah, dan jati diri Bacukiki.
*Batu Makkiki’e* bukan hanya batu. Ia adalah nama, ia adalah peringatan, ia adalah penjaga, dan ia adalah awal mula cerita tentang Bacukiki.
Selama ringkikannya masih diceritakan, maka selama itu pula sejarah Bacukiki akan terus hidup.
_Gens Una Sumus, Satu Jiwa Satu Sejarah (*asp)






















