kompasnusantaranews.com, Gowa — Guna mengantisipasi tingginya risiko bencana tanah longsor di kawasan perbukitan, sebanyak 15 mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Tim Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) SPACE FT-UH sukses menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama dan Penggunaan Alat Keselamatan Darurat. Kegiatan ini dilangsungkan di Masjid Nurul Halal, Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, pada Kamis (16/6/2026). Pelatihan ini menjadi bagian integral dari Program Pakkatuju Saat Bencana sekaligus mendukung pengembangan sistem mitigasi berbasis masyarakat yang dikenal dengan nama SITULUNG.
Edukasi mitigasi bencana tersebut mendapat sambutan antusias dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari jajaran Perangkat Desa, Kepala Dusun, Ketua Karang Taruna, Petugas Puskesmas Pembantu (Pustu), anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 6 Gowa, hingga warga setempat. Kehadiran lintas sektoral ini dinilai sangat krusial mengingat topografi Desa Lonjoboko yang terjal. Dalam situasi krisis pascabencana, kemandirian warga dalam memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada menit-menit awal terbukti mampu meningkatkan peluang keselamatan korban hingga 40 persen sebelum tim medis profesional tiba di lokasi.
Demi menjamin keakuratan dan standar penanganan keselamatan, sesi pelatihan ini difasilitasi secara komprehensif oleh tim tenaga kesehatan dari Puskesmas Parangloe. Sesi edukasi dipimpin langsung oleh Kepala Unit Gawat Darurat (UGD), Jumiati, S.Kep., Ns., bersama jajaran perawat pelaksana yang terdiri atas Astuti, S.Kep., Fitriani, A.Md.Kep., dan Fitriani Tahir, S.Kep., Ns.

Dalam sesi materi, tim medis menekankan pentingnya penguasaan prinsip dasar 3A (Aman Diri, Aman Lingkungan, dan Aman Korban) sebagai prosedur wajib untuk mencegah munculnya korban susulan. Suasana pelatihan yang mulanya serius berubah menjadi sangat interaktif ketika pemateri melibatkan salah satu peserta sebagai subjek dalam simulasi tanggap darurat, sehingga memberikan gambaran visual yang nyata kepada masyarakat.
Melalui peragaan langsung tersebut, warga diajarkan langkah-langkah penyelamatan secara runtut:
-
Pemeriksaan tingkat kesadaran korban.
-
Pembukaan jalan napas menggunakan metode head tilt dan chin lift.
-
Praktik teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) melalui 30 kali kompresi dada yang dikombinasikan dengan dua kali napas buatan.
-
Penerapan Posisi Miring Mantap bagi korban yang mulai sadar guna mengantisipasi risiko fatal akibat tersedak cairan.
Selain aspek penanganan medis dasar, tim penyuluh turut memperkuat kapasitas mitigasi mandiri warga terhadap kondisi lingkungan sekitar. Masyarakat dibekali kemampuan teknis untuk mengenali gejala awal pralongsor, membiasakan penyiapan tas siaga darurat, serta berkomitmen mematuhi jalur evakuasi resmi saat situasi krisis terjadi.
Inisiatif proaktif yang digagas oleh mahasiswa PPK Ormawa SPACE FT-UH ini mendapat apresiasi mendalam dari pihak Puskesmas Parangloe. Tim tenaga kesehatan menilai bahwa pelatihan ini memberikan nilai guna yang sangat tinggi bagi warga lokal. Melalui edukasi ini, masyarakat Desa Lonjoboko diharapkan memiliki kesiapsiagaan penuh dan mengetahui langkah taktis yang harus diambil, sehingga mampu melakukan aksi penyelamatan secara mandiri tanpa harus sepenuhnya bergantung pada bantuan luar.































