JAKARTA kompasnusantaranews.com – Sinyal hijau untuk sepak takraw Indonesia makin terang. Komitmen PB PSTI membangun ekosistem olahraga yang profesional dan berkelanjutan resmi mendapat dukungan penuh dari KONI Pusat.
Dukungan itu ditegaskan langsung Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, saat menerima Ketua Umum PB PSTI, Dr. H. Surianto A.M., http://S.Ag., M.M., di Kantor KONI Pusat, Jakarta. Pertemuan ini jadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Presiden Asian Sepaktakraw Federation (ASTAF) dan Sekretaris Jenderal International Sepaktakraw Federation (ISTAF) ke Indonesia.
Momen pertemuan itu jadi panggung penting untuk membedah masa depan takraw nasional, khususnya soal Liga Sepak Takraw Indonesia (LSI) 2026. Liga ini bukan kompetisi biasa. Digagas PB PSTI sebagai wadah pembinaan atlet yang terstruktur dan berkelanjutan, LSI 2026 akan digelar di lima wilayah Indonesia.
Tujuannya jelas: jadi instrumen pembinaan efektif sekaligus membuka karpet merah bagi atlet-atlet daerah untuk unjuk gigi. Dari Sabang sampai Merauke, semua dapat panggung yang sama.
Marciano Norman tak ragu melontarkan pujian. Menurutnya, langkah progresif PB PSTI sudah di jalur yang benar. “Keberadaan liga yang terstruktur merupakan kebutuhan penting dalam menciptakan atlet-atlet berprestasi yang siap bersaing pada level internasional,” tegasnya.
Dukungan KONI Pusat ini jadi validasi. Sebab dalam olahraga modern, prestasi tak lahir instan. Butuh sistem pembinaan berkelanjutan, kompetisi berkualitas, dan kepemimpinan organisasi yang punya visi jelas. Dan itu yang sedang dibangun Surianto di PB PSTI.
Nama Dr. H. Surianto A.M.S.Ag., M.M. memang layak jadi sorotan. Di bawah komandonya, PB PSTI berhasil menghadirkan paradigma baru. Tak lagi cuma fokus ke target medali jangka pendek, tapi membangun fondasi kompetisi nasional yang melahirkan regenerasi atlet terus-menerus.
Sejak dipercaya memimpin PB PSTI, Surianto konsisten mendorong transformasi. Program pembinaan, peningkatan kualitas SDM olahraga, penguatan organisasi daerah, hingga perluasan jejaring internasional jadi prioritas. LSI 2026 adalah buah dari visi besar itu.




*Diplomasi Olahraga Berbuah Manis*
Hadirnya Presiden ASTAF dan Sekjen ISTAF di Jakarta bukan kebetulan. Ini bukti sepak takraw Indonesia kini makin diperhitungkan komunitas takraw internasional. Kondisi ini tak lepas dari lobi dan diplomasi olahraga yang dibangun PB PSTI. Hubungan harmonis dengan organisasi takraw Asia dan dunia terus dirawat.
Pelaksanaan LSI 2026 digadang-gadang jadi tonggak sejarah baru. Dengan restu KONI Pusat plus dukungan ASTAF dan ISTAF, peluang Indonesia memperkuat posisi sebagai kekuatan utama takraw dunia makin terbuka lebar.
Lebih dari sekadar kompetisi, LSI 2026 adalah wujud nyata komitmen PB PSTI di bawah Dr. H. Surianto A.M. S.Ag., M.M. Membangun masa depan sepak takraw Indonesia yang modern, profesional, berdaya saing, dan sanggup melahirkan prestasi yang bikin bangga di pentas internasional.




Takraw Indonesia tak lagi jalan di tempat. Dengan liga yang rapi, dukungan pusat, dan kepercayaan dunia, saatnya Indonesia naik kelas. (*asp)





















