PAREPARE kompasnusantaranews.com — Kalau ada gelar “Lurah Anti Mager”, mungkin Ahmad Agung Djamaluddin pantas menyandangnya. Sosok Lurah Ujung Lare ini bikin warga geleng-geleng kagum. Nggak kenal capek, nggak pilih waktu, tiap hari gaspol beresin musuh utama warga: “sampah rumah tangga, saluran got buntu, dan sedimen pasir-tanah yang numpuk”.
Masalah klasik tiap musim hujan: got mampet. Penyebabnya itu-itu juga. “Sampah rumah tangga” yang dibuang sembarangan nyangkut di saluran. “Sedimen pasir dan tanah” dari jalanan ikut hanyut, mengendap, lalu bikin got dangkal. Hasilnya? Air meluap, jalan becek, rumah warga kebanjiran.



Ahmad Agung nggak mau nunggu laporan numpuk di meja. Begitu urusan administrasi kelurahan kelar, ia langsung turun. Bekalnya: laporan warga plus info ketua RW/RT. “Saya analisis dulu titik buntunya di mana. Kalau sudah ketemu, langsung eksekusi. Solusinya harus tuntas, dari hulu sampai muara,” ujarnya.
Malu minta bantuan? Nggak ada di kamus pak lurah. Demi got bersih, ia gandeng BPBD & Damkar Kota Parepare. Prinsipnya jelas: bersihkan total, jangan setengah-setengah. Karena percuma ujungnya bersih kalau hulunya masih jadi sarang sampah dan sedimen.



Buktinya Rabu pagi ini (6/5/2026). Matahari baru naik, Ahmad Agung sudah berkubang lumpur di “Jalan Jamil Ismail dan Jalan Abu Bakar Lambogo” Dibantu tim Damkar, ia nyeker, ngeruk sedimen pasir yang sudah mengeras kayak semen, narik sampah plastik yang nyangkut di gorong-gorong.
Warga yang melintas cuma bisa acung jempol. “Pak Lurah ini luar biasa. Jam kerja urus kantor, habis itu langsung cek selokan. Hujan, malam, hari libur pun disikat. Nggak ada libur buat urusan warga,” kata Rahmunirah ketua RT yang ikut mendampingi.
Ahmad Agung sadar, got buntu nggak akan kelar kalau perilaku buang sampah sembarangan masih jalan terus. Sedimen pasir memang dari alam, tapi “sampah plastik, sisa makanan, sampai popok” itu murni ulah manusia. Kalau dua “penyakit” ini ketemu di got, ya wassalam. Air nggak ada jalan, meluber ke rumah warga.
Makanya selain kerja bakti, ia rajin edukasi warga door to door. “Got itu urat nadi kota kecil. Kalau mampet, kita semua yang repot. Jadi tolong, jangan jadikan selokan tong sampah,” pesannya sambil narik karung berisi sampah.
Pagi, siang, malam. Hujan deras, hari libur. Waktu itu seolah nggak berlaku buat Ahmad Agung Djamaluddin. Selama ada laporan got buntu, selama ada sedimen numpuk, ia pastikan hadir.
Warga Ujung Lare kini punya harapan baru: musim hujan nggak lagi identik sama banjir kiriman dari got. Karena ada lurah yang kerjanya nggak cuma tanda tangan, tapi juga nyemplung langsung beresin sampah dari hulu sampai muara.
“Salut, Pak Lurah!” Kata ketua RW Aswin tausir





















