kompasnusantaranews.com, Sikka – Usia bangunan boleh saja lekang oleh waktu, namun semangat literasi anak-anak di Kampung Kabor terbukti jauh lebih kokoh. Meski fasilitas utama Pondok Baca Kampung Kabor kini roboh, aktivitas belajar dan bermain di lokasi tersebut tetap berlangsung dengan penuh keriangan.
Pondok baca yang telah menjadi pusat edukasi warga dan sarana belajar anak-anak selama tujuh tahun terakhir ini akhirnya menyerah pada keadaan. Akibat faktor usia bangunan yang mulai rapuh dan terjangan angin kencang yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa minggu terakhir, struktur pondok dilaporkan roboh.
Kondisi kayu yang lapuk membuat bangunan tidak lagi mampu menahan beban angin, sehingga ruang yang biasanya digunakan untuk membaca dan berdiskusi kini tidak lagi memiliki atap maupun dinding yang utuh.
Pemandangan mengharukan terlihat di lokasi reruntuhan. Alih-alih merasa sedih atau berhenti berkunjung, anak-anak Kampung Kabor justru tetap datang dengan antusiasme yang sama. Dengan beralaskan apa adanya di sekitar puing-puing, mereka tetap asyik membaca buku dan bermain bersama rekan-rekan sebaya.
“Bangunan boleh saja roboh dimakan usia, tapi kegembiraan anak-anak untuk belajar tidak boleh ikut runtuh. Mereka adalah bukti bahwa literasi bukan sekadar tentang gedung, tapi tentang jiwa yang ingin terus tumbuh,” ujar Yanto de Flores, pengelola Pondok Baca Kampung Kabor.
Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas akan urgensi fasilitas pendidikan informal yang layak. Kehadiran kembali Pondok Baca Kampung Kabor sangat dinantikan guna memberikan ruang belajar yang aman, nyaman, dan terlindung dari cuaca bagi generasi penerus di kampung tersebut.
Pihak pengelola berharap adanya dukungan dari berbagai pihak untuk membantu proses renovasi atau pembangunan kembali wadah literasi ini, demi memastikan “api” belajar anak-anak tidak padam hanya karena tiadanya atap untuk berteduh.































