ASTAF DESK NEWS ASIAN GAMES AICHI-NAGOYA 2026
NAGOYA, Kompasnusantaranews.com – Merah Putih belum selesai. Dari lapangan Sepaktakraw Asian Games Aichi-Nagoya 2026, kabar baik terus berdatangan.
Setelah mengamankan dua medali perunggu, Indonesia kini membuka jalan untuk pesta medali yang lebih besar. Tim Quadrant Putra dan Putri tampil solid, konsisten, dan penuh percaya diri di fase grup.
Jika grafik ini terus naik, Nagoya bisa jadi titik balik kebangkitan Sepaktakraw Indonesia di level Asia.
*Quadrant Putra: Pimpin Grup B dengan Mental Petarung*
Di Grup B Quadrant Putra, Indonesia memimpin klasemen. Bukan kebetulan.
Dari dua laga awal, tim putra membukukan dua kemenangan. Catatannya meyakinkan: 4 set dimenangkan, hanya 1 set lepas. Produktivitas poin pun terjaga – 70 poin dicetak berbanding 52 poin lawan, selisih +18 poin.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu cerminan ketenangan saat tertinggal dan keberanian menekan saat momentum datang.




*Quadrant Putri: Dominan Tanpa Ampun*
Lebih garang lagi tim putri.
Turun di Grup B Quadrant Putri, Indonesia menyapu bersih dua pertandingan tanpa kehilangan satu set pun. Sempurna. Mereka mencetak 60 poin dan hanya memberi 37 poin kepada lawan, dengan surplus +23 poin.
Dominan, efektif, dan tanpa celah. Inilah bentuk Sepak takraw putri Indonesia yang selama ini dirindukan publik.
Hasil ini menempatkan kedua tim Quadrant Indonesia di posisi sangat ideal untuk melangkah ke babak penentuan. Artinya, peluang menambah sedikitnya dua medali lagi terbuka lebar.
Skenario terbaiknya: Indonesia bisa pulang dari Nagoya dengan minimal empat medali Sepaktakraw, dengan peluang mengkilapkan warna medali menjadi perak bahkan emas masih sangat hidup.
*Pujian dari Presiden ASTAF*
Perkembangan Indonesia tak luput dari mata Presiden Asian Sepaktakraw Federation (ASTAF), Dato’ Abdul Halim Kader (AHK).
AHK menilai apa yang terjadi di Nagoya bukan sekadar soal menang-kalah di lapangan. Lebih dari itu, ini adalah hasil dari kepemimpinan yang konsisten, pembinaan atlet yang terarah, persiapan yang matang, dan mental bertanding yang terus tumbuh.
> “Indonesia selalu menjadi salah satu negara penting dalam Sepaktakraw Asia. Yang menggembirakan di sini adalah daya saing yang mereka tunjukkan dalam berbagai nomor. Di bawah kepemimpinan Surianto, saya percaya Indonesia memiliki potensi untuk menjadi semakin kuat pada tahun-tahun mendatang,” ujar AHK.
Pernyataan itu menjadi validasi. Di bawah Presiden PB-PSTI, H. Surianto, pembangunan Sepaktakraw Indonesia menunjukkan arah yang jelas.



*Perjuangan Belum Selesai*
Bagi Indonesia, cerita di Nagoya belum tamat.
Dua medali sudah diamankan. Dua tim Quadrant masih melaju dengan keyakinan penuh. Tugasnya kini satu: jaga momentum, jaga fokus, dan ubah peluang menjadi sejarah.



Jika itu terjadi, Aichi-Nagoya 2026 bukan hanya soal tambahan medali. Ini akan menjadi penanda penting bahwa Indonesia kembali berdiri di barisan terdepan Sepaktakraw Asia (*asp)




















