Pinrang, kompasnusantaranews.com – Kegiatan Majelis Syuhada yang digagas sebagai gerakan Pejuang Subuh kembali berlangsung khidmat pada Jumat subuh, 7 Agustus 2026 di Masjid Al Muhajirin, Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.
Tausiyah subuh kali ini disampaikan oleh “Ustadz Muhammad Nasir” di hadapan alim ulama, majelis syuhada, dan ratusan jamaah yang datang dari berbagai wilayah, bahkan banyak yang menempuh jarak sekitar 35 km dari Kota Parepare.


*“Berjalan di Gelap, Berbuah Cahaya di Akhirat”*
Membuka ceramah dengan tema “Ada Apa Dengan Pejuang Subuh”, Ustadz Nasir mengutip janji Rasulullah SAW:
> “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid-masjid dalam keadaan gelap, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat”
> _(HR. Abu Dawud no. 561, At-Tirmidzi no. 223)_
Beliau juga mengingatkan hadits:
> “Tidaklah seseorang berwudhu di rumahnya lalu ia berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan shalat wajib, kecuali setiap langkahnya akan menghapus dosa dan mengangkat satu derajat”
> _(HR. Muslim no. 666)_
“Inilah kita. Orang-orang yang Allah pilih untuk meramaikan rumah-Nya di waktu yang paling berat,” tegas Ustadz Nasir.
*Menyambung Estafet 100 Tahun Perjuangan*
Dalam ceramahnya, Ustadz Nasir mengaitkan lahirnya Majelis Syuhada dengan sunnah Allah yang mengutus _mujaddid_ setiap 100 tahun.
Tahun 1912 M KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Tahun 1924 M KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU.
Dan 100 tahun kemudian, “2024 M di Parepare lahir Majelis Syuhada” — komunitas Pejuang Subuh yang merangkul warga Muhammadiyah dan NU dalam satu saf untuk memakmurkan masjid.


“Kenapa kita ada di Ujung Lero? Karena tahun 1944 Habib Hasan datang ke sini mendirikan masjid dan syiar Islam. Dari dakwah beliau lahirlah sosok yang kita kenal Puang Lero. Hari ini kita hanya menyambung perjuangan itu,” ujarnya.
*Keutamaan Majelis yang Dirindukan Langit*
Ustadz Nasir mengutip hadits tentang keutamaan majelis:
> “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah… kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya”
> _(HR. Muslim no. 2699)_
Beliau menekankan 3 peran penting Majelis Syuhada:
1. *Memakmurkan Masjid*: Bergerak dari masjid ke masjid untuk mengajak warga shalat subuh berjamaah.
2. *Menyatukan Umat*: Tanpa bendera kelompok. Yang ada hanya sajadah dan niat yang sama.
3. *Mencetak Generasi Cahaya*: Setelah 2 tahun berjalan, anak muda dan bapak-bapak yang dulunya tidur kini mulai istiqamah ke masjid.
*5 Janji Allah Bagi Penjaga Subuh*
Di akhir tausiyah, Ustadz Nasir menyampaikan 5 janji Allah bagi yang menjaga shalat di awal waktu:
1. *Di Dunia*: Rezeki didekatkan dan diberi berkah.
2. *Di Alam Kubur*: Shalat berjamaah menjadi cahaya yang menerangi.
3. *Di Padang Mahsyar*: Mendapat ketenangan, tidak merasakan panasnya hari perhitungan.
4. *Di Jembatan Siratal Mustaqim*: Dilalui dengan lancar dan cepat.
5. *Masuk Surga Tanpa Hisab*.
Beliau juga mengingatkan keutamaan 2 rakaat sunnah subuh:
> *”Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik dari dunia dan seisinya”* _(HR. Muslim no. 725)_
> *”Shalat paling berat bagi munafik adalah Isya dan Subuh…”* _(HR. Bukhari no. 657, Muslim no. 651)_
*Dua Tahun, Cahaya Terus Merambat*
Perjalanan dua tahun Majelis Syuhada bukan diukur dari jumlah, tapi dari konsistensi. Dari Masjid Al Muhajirin Ujung Lero, syiar ini terus merambat ke masjid-masjid lain di Pinrang dan sekitarnya.
“Pertanyaannya bukan ada apa dengan Pejuang Subuh. Tapi kapan giliran kita ikut berjalan di gelap, demi cahaya di akhirat?” tutup Ustadz Nasir.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sarapan bareng jamaah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai subuh di Masjid Al Muhajirin pagi itu.
_Wallahu a’lam bishawab._/bakhtiar syarifuddin (muassis majelis syuhada).





















