PAREPARE KOMPASNUSANTARANEWS.COM – Ketika Majelis Syuhada Kota Parepare menggelar _Safari Shalat Subuh Berjamaah_ di Masjid Jami Al-Muhajirin Ujung Lero, Kab. Pinrang, Jumat Subuh mendatang, (7/8/2026).
Yang kita ziarahi bukan sekadar bangunan masjid. Namun jejak seorang wali:Habib Hasan bin Alwi bin Sahl, yang akrab disebut Puang Lero.
Kehadiran ratusan “Pejuang Subuh” di tanah Lero adalah bentuk napak tilas. Kita shalat di tempat yang dulu dibangun dengan keringat, ilmu, dan doa seorang ulama besar yang dijuluki *Sultanul Ulama*.bahkan cerita rakyat Lero kabarnya bangunan ini tanpa besi, dan perekatnya sebagian menggunakan putih telur.
1. Kamus Berjalan dari Pambusuang ke Ujung Lero
Puang Lero lahir di Desa Pambusuang, Sulawesi Barat, Ia adalah putra Habib Alwi bin Abdullah bin Sahl atau yang dikenal Puang Towa. Ibundanya Rabiah, putri dari K.H. Toa.
Sejak muda beliau sudah haus ilmu. Hampir 30 tahun menuntut ilmu di Mekah. Di Tanah Suci, salah satu gurunya adalah Al-Allamah Alhabib Said Mekah Al-Yamani, ayahanda dari Hasan Yamani Campalagian.
Kepulangannya bukan membawa oleh-oleh dunia. Ia membawa ilmu. Beliau menguasai ilmu tauhid, kitab kuning, nahwu Arab, pakar fiqih, arsitek, penulis doa-doa, wirid, dan kitab-kitab ukiran serang. Hebatnya lagi, beliau menguasai lebih dari 20 bahasa Arab. Tak heran jika ulama menjulukinya “kamus berjalan” atau “kamus lamba-lamba”.
Tahun 1934-1944 beliau pernah menjabat Imam Masjid Jami At-Taqwa Pambusuang. Ia juga pendiri dan penasehat MAI – Madrasah Arabiyah Islamiyah di Pambusuang tahun 1935. Bahkan pernah menjadi Guru Besar Nahwu Arab di Yaman – Hadramaut, negeri sejuta wali.
2. Hijrah dan Membangun Peradaban di Lero
Mengapa beliau hijrah ke Ujung Lero? Karena saat itu tanah Mandar berkecamuk, tidak aman. Dari situlah beliau melanjutkan misi dakwahnya di tanah Bugis.
Di Ujung Lero, Puang Lero melanjutkan pembangunan Masjid Jami Al-Muhajirin, Nama “Al-Muhajirin” itu sendiri adalah cerminan perjalanan hidupnya: seorang ulama yang berhijrah demi menyelamatkan ilmu dan syiar.
Beliau tidak hanya ahli syariat. Dalam tasawuf, beliau menonjol dalam Tarekat Uluwiyah, Jejak sanad keilmuannya tersambung ke banyak tokoh besar Bugis: K.H. Ambo Dalle, Andi Selle, Panglima Jenderal Yusuf Bone Kayimuddin, Annangguru Ba’dollah – Imam Lero, Annangguru Yusuf – Imam Lero, Annangguru Abbas, dan sederet nama besar lainnya.

Puang Lero wafat dan dimakamkan di Ujung Lero, Kabupaten Pinrang, pada bulan Ramadan Tahun 1973. Makamnya hingga kini menjadi tujuan ziarah para pencari berkah ilmu.
3. Mengapa Safari Subuh ke Lero Itu Penting?
Opini saya sederhana: *Majelis Syuhada sedang menyambung rantai*.
Selama 2 tahun, Pejuang Subuh bergerak dari masjid ke masjid. Dan ketika langkah itu berhenti di Masjid Al-Muhajirin Ujung Lero, itu bukan kebetulan. Ini adalah bentuk penghormatan kepada ulama yang meletakkan batu pertama peradaban Islam di sana.
Apa yang diajarkan Puang Lero? Ilmu, ikhlas, sabar, dan istiqomah, Bukankah itu juga yang diteriakkan Majelis Syuhada setiap Subuh? “Putihkan & Rapatkan Shaf”.
Puang Lero hidup sederhana tapi ilmunya menggetarkan dunia Arab. Majelis Syuhada bergerak sederhana tapi jamaahnya kini 800 orang. Polanya sama: *dimulai dari 10 orang, dengan keyakinan, menjadi ribuan*.
4. Pesan untuk Kita: Jangan Putus Sanad
Di era sekarang, kita gampang lupa siapa pendiri masjid tempat kita shalat. Kita shalat, tapi tidak kenal siapa yang membangunnya.
Kunjungan Safari Subuh ke Ujung Lero adalah tamparan lembut. Ia mengingatkan: “masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga museum perjuangan”
Kalau Puang Lero sanggup menguasai 20 bahasa, menulis kitab, jadi arsitek, jadi guru besar di Hadramaut, lalu kembali membangun masjid di kampung… masa kita tidak sanggup bangun jam 3 pagi untuk shalat berjamaah?
Penutup
Selamat datang Pejuang Subuh di tanah Lero.
Di tempat ini, setiap ubin masjid, setiap mihrab, setiap lantunan adzan, masih menyimpan doa Puang Lero: “Sultanul Ulama” sang kamus berjalan.
Semoga dengan menziarahi jejaknya, semangat kita bertambah. Semoga Majelis Syuhada tetap istiqomah, dan semoga cahaya ilmu Puang Lero terus menaungi Sulawesi Selatan.
_Wallahu a’lam bishawab_




















