Kompasnusantara.com Pinrang –
Komandan Distrik Militer (Dandim) 1404/Pinrang Letkol Czi Imam Subekti, S.E., M.Sc,, memberikan klarifikasi resmi terkait isu yang berkembang di masyarakat mengenai kucuran anggaran pembangunan Koperasi Merah Putih, ia menegaskan bahwa besaran anggaran di setiap titik pembangunan bersifat variatif dan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Hal tersebut, disampaikan dalam wawancara dengan kompasnusantara.com bersama beberapa media lainnya, sesaat setelah kegiatan silaturahmi dengan awak media di Pendopo Makodim 1404/Pinrang, Kamis (2/7/2026).
Dalam pernyataannya, Letkol Czi Imam Subekti, menjelaskan mekanisme pencairan anggaran tersebut dilakukan secara bertahap berdasarkan progres pembangunan yang dicapai.
“Anggaran itu kita terima berdasarkan kebutuhan di masing-masing titik. Kami melaksanakan pembangunan, nanti kalau dapat progres sekian persen, kami akan mengajukan lagi anggaran berikutnya,” ucapnya menjelaskan.
Menanggapi isu yang beredar di luar bahwa anggaran pembangunan dipatok sebesar Rp1,6 miliar per unit atau per titik Koperasi Merah Putih, Dandim dengan tegas meluruskan bahwa nominal tersebut tidak bisa digeneralisasikan untuk seluruh wilayah. Ia memaparkan adanya perbedaan kebutuhan antarwilayah. Faktor geografis dan logistik juga menjadi penentu perbedaan besaran anggaran tersebut.
Skema Swakelola dan Pengawasan KetatPembangunan ini, diketahui tidak menggunakan sistem kontrak pihak ketiga, melainkan dijalankan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) dengan skema padat karya atau swakelola. Di setiap titik pembangunan, Babinsa mengatur dan mengawasi setiap pekerjaan konstruksi dibantu oleh tenaga ahli yang kompeten di bidangnya. Pekerjaan konstruksi dilakukan secara paralel, yakni pekerjaan baja (penyiapan struktur atas) dilakukan secara bersamaan dengan pekerjaan sipil (struktur bawah). Hal ini dilakukan untuk mempercepat jalannya pekerjaan.
Progres pekerjaan dipantau setiap hari secara langsung maupun melalui laporan rutin para Babinsa. Selain itu, progres juga dipantau secara realtime melalui portal pembangunan yang dibuat oleh Agrinas sebagai sarana kontrol bersama.
“Saya setiap hari mengecek progres jusik (kemajuan fisik) tiap titik pembangunan. Dari progres tersebut, saya bisa mengontrol pekerjaan apa saja yang sudah selesai, dan pekerjaan apa yang akan dilakukan berikutnya. Ketika diperlukan untuk pembelian atau pemesanan material untuk pekerjaan, akan didorong dananya untuk belanja. Jadi, uangnya tidak diberikan secara gelondongan, tetapi bertahap sesuai progres pekerjaan dan kebutuhan belanja material,” tegas Dandim.
Kendala di Lapangan
Sejauh ini, jalannya pembangunan di wilayah Pinrang dilaporkan berjalan aman dan kondusif berkat kerja sama yang solid di lapangan. Meski demikian, Dandim mengakui adanya tantangan tersendiri dalam pengadaan material berskala besar yang sesuai standar, seperti material spandek dan besi untuk struktur atas seperti CNP 200, CNP 100, dan besi holo.
“Besi CNP dan holo yang sesuai standarnya itu kita pesankan. Kalau beli eceran kecil-kecil kan mahal, dan di sini juga sulit untuk mendapatkannya dengan jumlah besar. Maka dari itu, ada material yang bahkan saya carikan langsung dan ambil dari Jakarta atau Surabaya,” ungkapnya.
Menutup klarifikasinya, Dandim kembali menegaskan bahwa total realisasi anggaran secara keseluruhan belum dapat dipastikan secara detail, karena proses pembangunan masih terus berjalan. Namun, poin utamanya adalah besaran anggaran di setiap titik dipastikan bervariasi berdasarkan kondisi di lapangan, pungkasnya.(*)































